Bab 2 Skripsiku (draft)
Rabu, 14 Mei 2008
22.14
T U N J A N G A N P U S T A K A
Bab kedua ini akan berisi kumpulan definisi dan teori berkaitan denganbelajar & motivasi, yang berasal dari 2 buku yaitu Belajar dan Pembelajaran oleh Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono; serta Drs. Syaiful Bahri Djamarah, dalam bukunya, Psikologi Belajar. Serta juga teori seputar Strategi Pembelajaran Kontekstual yang berasal dari buku Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan, karangan Dr. Wina Sanjaya, M.Pd; dan juga definisi dan teori lain yang berasal dari internet maupun buku-buku lainnya.
Definisi dan Teori Seputar Motivasi
Pertama-tama, marilah kita lihat dulu apa pengertian dari kata motivasi menurut Dr. Dimyati & Drs. Mudjiono (Belajar dan Pembelajaran. 2006) : Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang dan dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran serta berkaitan dengan minat. Motivasi bisa bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri; dapat juga bersifat external yaitu dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Berikut adalah penjelasan tentang motifasi intrinsik dan ekstrinsik menurut Drs. Syaiful Bahri Djamarah, dalam bukunya, Psikologi Belajar:
Motivasi intrinsik adalah motof yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik, yaitumotif-motof yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Motif ekstrinsik bisa berupa internal maupun external dan dapat juga berubah menjadi motof intrinsik.
Apa Itu ‘Belajar’ ?
Setiap orang menjadi dewasa karena belajar dan pengalaman selama hidupnya. Belajar pada umumnya dilakukan seseorang sejak mereka ada di dunia ini. Ada beberapa ahli yang mendefinisikan istilah belajar dengan beberapa uraian yang tidak sama. Untuk dapat memahami dan mempunyai gambaran yang luas, berikut ini diberikan beberapa pengertian belajar menurut beberapa ahli :
a. Whittaker: belajar adalah proses tingkah laku yang ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
b. Kimble: belajar adalah perubahan relatif permanen dalam potensi bertindak, yang berlangsung sebagai akibat adanya latihan yang diperkuat.
c. Winkel: belajar adalah aktivitas mental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap.
d. Sdaffer: belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif menetap, sebagai hasil pengalaman-pengalaman atau praktik.
Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri.
Perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar dapat berupa ketrampilan, sikap, pengertian ataupun pengetahuan. Belajar merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar dan disengaja, artinya seseorang yang terlibat dalam peristiwa belajar pada akhirnya menyadari bahwa ia mempelajari sesuatu, sehingga terjadi perubahan pada dirinya sebagai akibat dari kegiatan yang disadari dan sengaja dilakukannya tersebut. (http://heritl.blogspot.com/2007/12/belajar-dan-motivasinya.html)
Belajar Berdasarkan Prinsip Motivasi
Motivasi untuk belajar adalah penting dalam melakukan kegiatan belajar. Karena motivasi merupakan pendorong yang dapat melahirkan kegiatan bagi seseorang. Seseorang yang bersemangat untuk menyelesaikan suatu kegiatan karena ada motivasi yang kuat dalam dirinya, akan berusaha menghasilkan yang terbaik. Seseorang yang ingin mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, akan menjadikan nilai yang bagus tersebut sebagai tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut menjadi alat motivasi yang melahirkan kegiatan bagi orang itu untuk dapat mencapai dengan sekuat tenada dan pikiran.
Siapapun tidak menyangkal bahwa tanpa motivasi, seseorang tidak akan melakukan kegiatan belajar. Minat tanpa motivasi hanyalah sekedar berminat tapi belum tentu berbuat. Misalnya: ada siswa yang berminat dalam bidang tulis-menulis. Minatnya untuk menulis cerpen sudah ada, tapi motivasinya yang belum ada dan mendorongnya untuk mulai menulis. Sehingga boleh jadi minatnya tersebut diurungkan menjadi besok, lusa, minggu depan hingga waktu yang tak terbatas. Seandainya minat tersebut dibarengi dengan hadirnya motivasi, maka dalam waktu yang relatif dekat, dia akan segera merealisasikan perbuatan menlis cerpen tersebut. Katakanlah, motivasinya menulis cerpen adalah untuk mengikuti lomba penulisan cerpen di sebuah majalah yang deadline-nya dua minggu lagi; pasti siswa tersebut akan menyegerakan kegiatan menulisnya.
Motivasi, adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan adanya tanggapan terhadap suatu tujuan. Perubahan energi dalam diri seseorang itu berbentuk suatu aktivitas nyata berupa kegiatan fisik. Karena seseorang mempunyai tujuan tertentu dari aktivitasnya, maka seseorang mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapainya dengan segala upaya yang dapat ia lakukan untuk mencapainya.
Motivasi merupakan faktor yang menentukan dan berfungsi menimbulkan, mendasari, dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya- akan semakin besar kesuksesan, tampak kegigihan dan pantang menyerah. Sebaliknya, mereka yang motivasinya lemah akan menjadi acuh tak acuh, mudah putus asa dan perhatiannya mudah terpecah. Serta sering pula mengganggu dalam kelas, sering meninggalkan pelajaran dan itu berdampak pada kesulitan belajar.
Akhirnya, motivasi mempunyai arti penting dalam belajar. Fungsi motivasi adalah sebagai pendorong timbulnya suatu aktivitas, sebagai pengarah dan sebagai penggerak untuk melakukan suatu pekerjaan.
Prinsip- prinsip motivasi belajar
Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.
Motivasi adalah sebagai dasar penggerak seseorang dalam proses belajar. Seseorang yang berminat untuk belajar, belum sampai pada tataran motivasi, maka dia belum akan menunjukkan aktivitas yang nyata.
Motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar.
Dari seluruh kebijakan pengajaran, guru lebih banyak memutuskan memberikan motivasi ekstrinsik kepada anak didiknya karena anak yang malas belajar sangat berpotensi untuk diberikan motivasi ini supaya dia rajin belajar. Namun, anak yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit terpengaruh dari luar. Semangat belajarnya lebih kuat dibanding bila diberikan motivasi ekstrinsik saja.
Motivasi berupa pujian lebih baik daripada hukuman.
Meski hukuman tetap diberlakukan dalam memicu semangat belajar anak didik, tetapi masih lebih baik penghargaan berupa pujian. Setiap orang senang dihargai dan tidak senang dihukum dalam bentuk apapun juga.
Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar.
Kebutuhan yang tak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah anak didik belajar. Guru yang berpengalaman cukup bijak memanfaatkan kebutuhan itu, sehingga dapat memancing semangat belajar anak didiknya.
Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar.
Anak didik yang mempunyai motivasi belajar, selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa ilmunya bukan hanya berguna saat ini, tapi juga disaat mendatang.
Motivasi dapat melahirkan prestasi dalam belajar.
Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seorang anak didik.
(sumber: Djamarah. 2007)
Fungsi motivasi dalam belajar
Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Motivasi berfungsi sebagai pendorong dalam mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil, dalam rangka belajar.
Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan seuatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian menjelma dalam suatu tindakan belajar.
Motivasi sebagai pengarah perbuatan.
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana yang diabaikan. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar.
(sumber: Djamarah. 2007)
Bentuk motivasi dalam belajar
Memberi angka:
Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik, biasanya sesuai hasil ulangan. Pemberian angka/nilai yang baik juga penting diberikan kepada anak didik yang kurang bergairah belajar bila hal itu dianggap dapat memotivasi untuk lebih semangat.
Hadiah:
Dalam dunia pendidikan, hadiah sering dijadikan sebagai alat motivasi. Bentuknya bisa beragam, mulai dari beasiswa hingga alat tulis. Dengan cara ini, anak didik akan termotivasi untuk mempertahankan prestasi belajar mereka dan memotivasi anak lain untuk berkompetisi.
Kompetisi:
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergairah belajar. Kompetisi atau persaingan, bisa dimanfaatkan untuk menciptakan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif.
Ego-involvement:
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerima tugas sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
Memberi ulangan
Ulangan bisa dijadikan alat motivasi jika dilakukan secara akurat dengan teknik dan strategi yang sistematis dan terencana.
Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar lebih giat. Mereka perlu mempersiapkan diri menerima prestasi belajar yang rendah, disebabkan kesalahan belajar, dia akan berjiwa besar dan memotivasi dirinya untuk memperbaiki dengan belajar lebih optimal.
Pujian
Pujian adalah bentuk motivasi dan pemicu yang positif. Seseorang yang senang dipuji akan membesarkan jiwanya. Kadang mereka malas belajar karena menganggap guru pilih kasih dalam melampiaskan kasih sayang dan menyampaikan pujian.
Hukuman
Hukuman merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif; yaitu hukuman yang mendidik dan bertujuan memperbaiki sifat dan perbuatan anak didik yang dianggap salah. Hukuman tidak boleh didasari pada dendam.
Hasrat untuk belajar
Ini berarti ada unsur kesengajaan dan maksud untuk belajar. Hasrat untuk belajar penting adanya, karena merupakan potensi yang tersedia didalam diri anak didik dan ada hubungannya dengan gejala psikologis.
Minat
Ada beberapa cara untuk membangkitkan minat anak didik; membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik sehingga dia rela belajar tanpa paksaan. Menghubungkan bahan pelajaran yang ada dengan persoalan pengalaman yang dimiliki anak didik. Menyediakan lingkungan yang kondusif serta menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar karena adanya perbedaan individual.
(sumber: Djamarah. 2007)
Konsekuensi Dalam Belajar
Konsekuensi yang tidak menyenangkan terhadap anak didik dari keterlibatannya dalam belajar :
Anak didik kehilangan harga diri karena gagal memahami suatu gagasan, atau memecahkan suatu permasalahan dengan tepat.
Anak didik frustasi karena tidak mungkin mendapatkan penguatan.
Anak didik harus berhenti ditengah aktivitas yang menarik.
Anak didik harus melakukan ujian yang materi dan gagasannya belum pernah diajarkan.
Materi yang terlalu sulit.
Guru tidak melayani permintaan anak didik akan pertolongan.
Anak didik harus mendengarkan presentasi guru yang membosankan.
(sumber: Djamarah. 2007)
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks. Apabila ini dikaitkan dengan hasil belajar siswa, ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Menurut Suryabrata (1989), faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar digolongkan menjadi 3, yaitu: faktor dari dalam, faktor dari luar dan faktor instrumen.
Faktor dari dalam yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi belajar yang berasal dari siswa yang sedang belajar. Faktor-faktor ini meliputi :
a. Fisiologi, meliputi kondisi jasmaniah secara umum dan kondisi panca indra. Anak yang segar jasmaninya akan lebih mudah proses belajarnya. Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi, kondisi panca indra yang baik akan memudahkan anak dalam proses belajar.
b. Kondisi psikologis, yaitu beberapa faktor psikologis utama yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
1). Faktor kecerdasan yang dibawa individu mempengaruhi belajar siswa. Semakin individu itu mempunyai tingkat kecerdasan tinggi, maka belajar yang dilakukannya akan semakin mudah dan cepat. Sebaliknya semakin individu itu memiliki tingkat kecerdasan rendah, maka belajarnya akan lambat dan mengalami kesulitan belajar.
2). Bakat individu satu dengan lainnya tidak sama, sehingga menimbulkan belajarnya pun berbeda. Bakat merupakan kemampuan awal anak yang dibawa sejak lahir.
3). Minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu. Minat belajar siswa yang tinggi menyebabkan belajar siswa lebih mudah dan cepat.
4). Motivasi belajar antara siswa yang satu dengan siswa lainnya tidaklah sama. Adapun pengertian motivasi belajar adalah ”Sesuatu yang menyebabkan kegiatan belajar terwujud”. Motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: cita-cita siswa, kemampuan belajar siswa, kondisi siswa, kondisi lingkungan, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan upaya guru membelajarkan siswa.
5). Emosi merupakan kondisi psikologi (ilmu jiwa) individu untuk melakukan kegiatan, dalam hal ini adalah untuk belajar. Kondisi psikologis siswa yang mempengaruhi belajar antara lain: perasaan senang, kemarahan, kejengkelan, kecemasan dan lain-lain.
6). Kemampuan kognitif siswa yang mempengaruhi belajar mulai dari aspek pengamatan, perhatian, ingatan, dan daya pikir siswa.
Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa yang mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini meliputi :
a. Lingkungan alami
Lingkungan alami yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses belajar misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat atau gedungnya, alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat-alat pelajaran.
1). Keadaan udara mempengaruhi proses belajar siswa. Apabila udara terlalu lembab atau kering kurang membantu siswa dalam belajar. Keadaan udara yang cukup nyaman di lingkungan belajar siswa akan membantu siswa untuk belajar dengan lebih baik.
2). Waktu belajar mempengaruhi proses belajar siswa misalnya: pembagian waktu siswa untuk belajar dalam satu hari.
3). Cuaca yang terang benderang dengan cuaca yang mendung akan berbeda bagi siswa untuk belajar. Cuaca yang nyaman bagi siswa membantu siswa untuk lebih nyaman dalam belajar.
4). Tempat atau gedung sekolah mempengaruhi belajar siswa. Gedung sekolah yang efektif untuk belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut: letaknya jauh dari tempat-tempat keramaian (pasar, gedung bioskop, bar, pabrik dan lain-lain), tidak menghadap ke jalan raya, tidak dekat dengan sungai, dan sebagainya yang membahayakan keselamatan siswa.
5). Alat-alat pelajaran yang digunakan baik itu perangkat lunak (misalnya, program presentasi) ataupun perangkat keras (misalnya Laptop, LCD).
b. Lingkungan sosial
Lingkungan sosial di sini adalah manusia atau sesama manusia, baik manusia itu ada (kehadirannya) ataupun tidak langsung hadir. Kehadiran orang lain pada waktu sedang belajar, sering kali mengganggu aktivitas belajar. Dalam lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa ini dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) lingkungan sosial siswa di rumah yang meliputi seluruh anggota keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, kakak atau adik serta anggota keluarga lainnya, (2) lingkungan sosial siswa di sekolah yaitu: teman sebaya, teman lain kelas, guru, kepala sekolah serta karyawan lainnya, dan (3) lingkungan sosial dalam masyarakat yang terdiri atas seluruh anggota masyarakat.
Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumen ini antara lain: kurikulum, struktur program, sarana dan prasarana, serta guru.
Faktor instrumen yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pembelajaran adalah media pembelajaran. Dalam hal ini adalah media komputer dengan memanfaatkan program animasi SWiSH yang digunakan dalam pembelajaran Bahasa Jawa.
(sumber : http://heritl.blogspot.com/2007/12/belajar-dan-motivasinya.html)
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar
Dalam dunia pendidikan, motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Pembelajaran dikatakan baik jika tujuan awal, umum dan khusus tercapai. Orang dewasa yang mempunyai need to know / kebutuhan akan keingintahuan yang tinggi, mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal psikologis mereka. Motivasi belajar tentu berkaitan dengan psikologis peserta didik orang dewasa. Terkadang, motivasi belajar dapat pula terpengaruh oleh beberapa sebab, berikut dijabarkan berbagai sebab/faktor yang dapat menurunkan motivasi belajar peserta didik orang dewasa;
Kehilangan harga diri
Pengaruh dari hilangnya harga diri bagi orang dewasa sangat besar. Tanpa harga diri, peserta didik orang dewasa akan berlaku sangat emosional dan pasti menurunkan motivasi belajarnya. Penting bagi tutor/guru untuk menyadari hal ini. Berhati-hati dengan latar belakang dan tidak menyinggung perasaan orang lain merupakan hal yang harus diperhatikan tutor/guru untuk peserta didik orang dewasa.
Ketidaknyamanan fisik
Fisik merupakan aspek fisiologis/penampakan yang penting untuk meningkatkan motivasi belajar. Seorang peserta didik dewasa biasanya selalu memperhatikan penampilan fisiknya. Jika fisiknya tidak membuat ia nyaman, motivasi belajarnya pun akan menurun.
Frustasi
Mereka yang mengalami masalah yang tidak tertanggulangi biasanya akan cepat frustasi. Peserta didik seperti ini tentu fokus utamanya menghadapi problem hidupnya yang sedang carut-marut itu. Motivasi untuk terus belajar akan menurun sejalan dengan rasa frustasinya.
Teguran yang tidak dimengerti
Orang dewasa tidak hanya manusia yang mempunyai pemikiran dan pengalaman luas ttapi juga prasangka yang besar pula. Jika tutor/guru menegur dengan tanpa ia mengerti, peserta didik orang dewasa itu pun akan merasa bingung dan berprasangka macam-macam yang pada akhirnya menjadi faktor penurun motivasi belajarnya.
Menguji yang belum dibicarakan/diajarkan
Tutor/guru yang tidak memahami peserta didiknya dan mempunyai jam terbang rendah, nampaknya kesulitan dan dapat saja ia lupa atau sengaja untuk menampilkan soal-soal ujian yang sulit atau belum diajarkanya karena berbagai sebab.
Materi terlalu sulit/mudah
Materi pembelajaran dapat diukur dengan menerapkan pratest dan pengidentifikasian sasaran peserta didik. Terkadang hal ini tidak diperhatikan tutor/guru sehingga materi yang diajarkan terlalu sulit/mudah. Bagi peserta didik orang dewasa, mereka tentu sangat bosan dengan materi yang terlampau mudah dan sangat frustasi dengan materi yang terlampau sulit. Keduanya mempengaruhi motivasi belajar peserta didik ketingkat terendah.
Persaingan yang tidak sehat
Setiap peserta didik orang dewasa mempunyai perbedaan satu sama lainya. Kadang-kadang dalam ujian ada saja yang berbuat curang. Peserta didik yang berbuat jujur merasa tidak adil kepada mereka yang mencontek dan mendapat nilai bagus sementara dirinya bersungguh-sungguh dalam belajar tetapi nilainya standar saja. Hal ini menyebabkan motivasi belajarnya menurun bahkan menjadikan proses belajar tidak lagi kondusif.
Presentasi yang membosankan
Pembelajaran tidak terlepas dari proses penyajian materi. Tutor harus dapat menyajikan materi yang baik. Menarik, jelas dan melingkupi seluruh materi menjadikan suatu presentasi diterima dengan baik. Jika hal itu bertolak belakang, peserta didik orang dewasa akan cepat bosan dan menurunkan motivasinya untuk belajar.
Pelatih/fasilitator tidak menaruh minat
Tutor dalam perannya sebagai fasilitator di kelas sangat penting untuk memperlihatkan minatnya pada materi yang diajarkan. Jika tidak, peserta didik orang dewasa akan berfikir bahwa materi tersebut tidak penting dan membosankan. Hal itu akan sangat berdampak pada penurunan motivsi belajar mereka.
Tidak mendapatkan umpan balik
Pembelajaran yang efektif harus menyertakan umpan balik pada komponen komunikasi antar individu. Peserta didik orang dewasa dan tutor/guru selayaknya mendapatkan umpan balik satu dan lainnya. Jika hal ini tidak terjadi, peserta dan tutor/guru akan mengarah pada komunikasi searah saja.
Harus belajar dengan kecepatan yang sama
Pembelajaran merupakan suatu proses dimana pesrta didiknya memiliki perbedaan baik dalam hal kecepatan daya serap atau pengalaman dan kemampuan lainnya. Jika tutor memberikan pola pengajaran yang kecepatannya sama tiap-tiap peserta didik, dikhawatirkan akan terjadi kebosanan pada pesrta didik orang dewsa yang lebih cepat penyerapannya dan terjadi rasa frusrtasi yang sangat bagi peserta didik yang proses penyerapannya lambat. Kedua hal ni dapat menurunkan motivsi belajar pesrta didik orang dewasa.
Berkelompok dengan peserta yang sama sama kurang
Metode pembelajaran kelompok merupakan suatu metode stratgis untuk tutor/guru agar peserta didik dapat saling mengisi dan menanggulangi masalah yang disampaikan tutor/guru. Jika dalam satu kelompok anggotanya berkemampuan rendah semua, kegiatan kelompok tidak akan berjalamn baik. Proses yang diharapkan guru/tutor agar saling mengisi dan bertukar pendapat akan tidak berjalan dikarenakan seluruh anggorannya berkemampuan rendah. Peserta didik pun akan merasa tidak mencapai progres yang baik dan tidak mencapai target. Keadaan tersebut akan menurunkan motivasi belajarnya.
Harus bertingkah yang tidak sesuai dengan pembimbingnya
Tingkah laku orang dewasa dipengaruhi oleh pemahamannya. Peserta didik orang dewasa mempunyai karakter yang khas satu sama lainnya. Pembimbing/tutor tidak dapt memaksakan kehenaknya kepada peserta didiknya agar sesuai dengannya. Jika hal ini terjadi, peserta didik orang dewasa akan bertindak tidak sesuai denga pribadinya dan hal ini menimbulkan gejolak didalam hatinya dan mungkin mereka akan keluar kelas untuk selamanya.
(sumber : http://blog.persimpangan.com/)
Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar
Menggairahkan anak didik
Guru harus memelihara minat anak didik dalam mengajar yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk berpindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar.
Memberikan harapan realistis
Guru dapat membedakan antara harapan yang realistis, pesimistis, atau terlalu optimis. Harapan yang tidak realistis adalah kebohongan.
Memberikan insentif
Bentuk insentif telah diuraikan yang berupa motivasi ektrinsik: yaitu hadiah, pujian dan memberi angka.
Mengarahkan perilaku anak didik
Mengarahkan perilaku anak didik adalah dengan memberikan penugasan, bergerak mendekati, memberikan hukuman yang mendidik, menegur dengan lembut dan perkataan yang ramah dan baik.
(sumber: Djamarah. 2007)
B I B L I O G R A P H Y
Dimyati, Dr. Mudjiono, Drs. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta. 2007.
Djamarah, S.B, Drs. Psikologi Belajar. Jakarta : Penerbit Rineka Cipta. 2006.
Label: Skripsi
|
CTL part 2
Kamis, 14 Februari 2008
21.04
Artikel:
CTL YANG CENTIL KITA SENTIL
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian KURIKULUM / CURRICULUM. Nama & E-mail (Penulis): Deny Suwarja Saya Guru di SLTPN 1 CIBATU GARUT Tanggal: 7 NOVEMBER 2003 Judul Artikel: CTL YANG CENTIL KITA SENTIL Topik: ctl Perbincangan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan topik pembicaraan hangat di kalangan pendidik. Sehangat kita menghirup kopi di pagi hari. Enak diminum, harum aromanya tapi tetap berwarna hitam, penuh misteri untuk kita selidiki. Strategi pembelajaran yang diberlakukan di kelas 1 semester gasal pada tahun ajaran 2003/2004 ini, membuat bingung, mengagetkan dan menyita perhatian para guru.
Pemerintah memberlakukan KBK dengan strategi CTL dilandasi kenyataan bahwa guru kurang memiliki kompetensi, kurang profesional, dan tidak memenuhi kriteria sebagai guru sehingga kualitas pendidikan negeri ini makin terpuruk. Dengan diberlakukannya CTL, terbersit dalam sanubari seberkas harapan untuk terjadinya peningkatan mutu pendidikan di tanah air pada masa yang akan datang. CTL diberlakukan setelah dianalisis secara mendalam oleh pakar terkait, baik dari Pusat Kurikulum, Pusat Pengujian, Perguruan Tinggi dan Guru Sekolah.
Sangat disayangkan, pada pemberlakukan CTL ini sepertinya pemerintah melakukan kesalahan yang sama seperti pada pemberlakuan CBSA yang lalu. Kita tengok masa lalu, Prof Dr Connie Semiawan sebagai Ketua Pusat Kurikulum, mempromosikan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) setelah proyek ujicobanya di SD-SD Cianjur berhasil dengan baik. Aspek-aspek kognitif, psikomotorik dan afektif - bahkan emotif dengan strategi CBSA- terjalin rapih. Siswa "menemukan sendiri" pengetahuannya, apa yang ingin mereka pahami. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang sesekali melontarkan pertanyaan yang sekaligus menggelitik mengarahkan dan menggairahkan untuk dijawab siswa.
Program CBSA pun kemudian diterapkan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Para penerbit buku pelajaran pun "panen" dengan menerbitkan berbagai macam buku menawarkan isi tentang CBSA. Guru-guru dan Kepala Sekolah pun diberi pelatihan tentang CBSA tersebut. Namun, apa yang terjadi kemudian? Keberhasilan yang kita harapkan, jauh panggang dari api. CBSA yang seharusnya Cara Belajar Siswa Aktif seringkali berubah menjadi "Cul Budak Sina Anteng", atau menjadi "Catat Buku Sampai Abis". CBSA akhirnya justru melemahkan semangat belajar siswa, mereka melihat dan merasakan Bapak dan Ibu gurunya menjadi malas mengajar dan hanya memberi catatan dan tugas-tugas.
Ketidakberhasilan CBSA patut diselidiki dan kita waspadai jangan sampai terjadi pada CTL. Penulis menganalogikan CTL sebagai gadis cantik yang centil yang harus disentil dari awal karena bila tidak, nasibnya akan sama dengan CBSA, rest in peace. Sentilan ini terdiri dari beberapa hal yaitu: faktor tidak adanya kesiapan; guru, modelling, pelibatan siswa, lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa) serta tersedianya dana pendidikan yang memadai. Bila pemerintah tidak cepat melibatkan kelima faktor tersebut bukan tidak mungkin CTL juga nantinya akan senasib dengan CBSA yang kini tinggal kenangan. Seperti iklan otomotif di televisi, nyaris tak terdengar.
Pemberlakukan CTL sepertinya tidak menyentuh persoalan dasar para guru sebagai pelaksana pendidikan di lapangan, sehingga belum tentu akan mengangkat citra dan kualitas pendidikan. Para guru hanya digiring dan dicekoki pada bagaimana menyiapkan dan mengerjakan administrasi kegiatan belajar-mengajar (KBM) atau silabus yang baik dan lengkap. Guru tidak diberikan wawasan atau pengalaman untuk memahami dan mengerti apa, bagaimana dan seperti apa CTL itu harus dilakukan di dalam kelas. Akibatnya, strategi CTL yang seharusnya sudah dilaksanakan di kelas 1 awal semester ini belum juga dilaksanakan. Guru masih belum mengerti 4WH (What, Why, Where, Who, dan How)-nya CTL. Akibatnya proses pembelajaran tetap diberlakukan dengan sistem klasikal. Ceramah. Guru beraksi dan berakting di depan kelas, murid menonton dan mendengarkan.
Pemberdayaan guru sangat penting dalam upaya mencapai pembelajaran CTL yang sesungguhnya. Guru bukan disuapi dengan teks dan konsep CTL. Diknas seharusnya memberikan contoh langsung, model guru CTL itu seperti apa. Sosok yang telah mampu melakukan CTL dengan baik, benar dan sesuai dengan konsep CTL yang sesungguhnya. Saya meyakini sampai hari ini belum ada seorang guru pun yang benar-benar memahami bagaimana seharusnya guru melakukan pembelajaran dengan CTL. Visualisasi strategi pembelajaran CTL dapat disosialisasikan dalam bentuk VCD, seperti yang dicontohkan oleh Bobby de Porter dengan Quantum Learning dan Quantum Teaching- nya. Jadi filmnya tidak kaku atau dibuat-buat. Tapi alami dan wajar. Sayangnya justeru kekhawatiran tersebut telah terjadi pada VCD CTL yang dibagikan ke sekolah-sekolah beberapa waktu lalu.
Langkah lain yang dapat dilakukan adalah pelatihan semacam workshop pendalaman CTL terhadap para guru. Dengan pelatihan tersebut guru akan belajar mengenai 4WH-nya CTL dan melakukannya di dalam kelas dengan penuh tanggung jawab. Pemberdayaan guru merupakan faktor kunci keberhasilan pelaksanaan CTL. Jika guru tidak memiliki keterampilan untuk mengubah paradigma pola mengajar sekaligus tidak bisa mengelola kelas dengan baik, ilmu seluas langitpun yang ada di kepalanya tidak bisa ditransfer dengan baik kepada siswa didiknya. Pelatihan bukan dalam bentuk ceramah, tapi dalam bentuk semiloka, diskusi serta brainstorming.
Dalam pelaksanaannya, CTL seharusnya disosialisasikan dan dikontekskan agar difahami dan dialami langsung oleh para siswa. Siswa akan merasakan kesenangan, kehangatan dan kesukaan dalam pembelajaran bila guru mampu mengkontekskan CTL. Guru dan siswa bukan "lahan eksperimen" para pemegang kebijakan bidang pendidikan semata, tetapi harus menjadi subjek eksperimen itu. Seperti diutarakan di atas bahwa CTL diberlakukan setelah dianalisis secara mendalam oleh pakar terkait, baik dari Pusat Kurikulum, Pusat Pengujian, Perguruan Tinggi dan Guru Sekolah. Tapi apakah analisis tersebut telah menyentuh jiwa siswa sebagai pembelajar? Bukankah sudah saatnya kita melihat siswa sebagai subjek didik, bukan sebaliknya? Pemberlakuan dan pelaksanaan CTL selayaknya juga melibatkan kesiapan dan kesigapan siswa sebagai pembelajar yang sesungguhnya. Sehingga bila CTL dilaksanakan oleh gurunya, siswa tidak kaget dan terjebak kembali kepada paradigma; gurunya malas karena hanya memberikan tugas dan catatan.
Faktor keempat kemungkinan kegagalan strategi CTL dalam sistem pendidikan kita adalah lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa). Padahal abad 21 adalah era informasi yang membutuhkan keterampilan membaca dan menulis yang mumpuni. Manusia yang tidak mempunyai kemauan, kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis akan jauh tertinggal, terseok-seok tertinggal zaman. Para guru dan siswa di negeri ini semestinya meniru Jepang, negeri yang luluh lantak pasca tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Negeri matahari terbit ini dapat bangkit dan menjadi negara yang sangat maju karena kegilaan membaca rakyatnya yang sangat mengagumkan. Di stasiun kereta api, di taman, bahkan di dalam kereta yang penuh sesak, dalam keadaan berdiri orang Jepang asyik membaca buku.
P. David Pearson dari Michigan State University (2003) menyatakan , "Reading comprehension is thought of as the product of decoding and listening comprehension (RC = Dec * LC), and the major task of instruction is to ensure that students master the code so that comprehension can proceed more or less by listening to what you read". Keterampilan membaca adalah pemikiran sebagai produk memecahkan kode dan mendengarkan pengertian ( RC= Dec* LC), dan tujuan instruksi utamanya adalah untuk memastikan bahwa para siswa menguasai kode sedemikian sehingga pengertian dapat berproses kurang lebih dengan mendengarkan apa yang kamu baca. Guru dan siswa harus melatih skill mereka dalam "mendengarkan" dan mengikat isi buku. Atau dengan bahasa yang lain guru dan siswa harus layak membaca buku dan menuliskan sesuatu, harus mempunyai kemampuan mengikat makna (Hernowo, Kaifa, 2001).
Sayangnya kelayakan untuk dapat mengikat makna dengan cara membaca dan menuliskan sesuatu tersebut harus dibayar mahal. Banyak sekali dari rakyat di negeri ini yang tergila-gila membaca buku, harus terbentur pada harga buku yang selangit. Mahal. Sedikit sekali orang yang mampu membeli buku yang bermutu karena tidak terjangkau isi saku. Pengadaan buku paket selayaknya dibarengi dengan pengadaan buku-buku populer dan buku "How to" yang membahas kemajuan dan perkembangan pendidikan. Sehingga kalaupun tidak terbeli, guru dan siswa dapat bersama-sama membaca di perpustakaan sekolah.
Kendala tercapainya peningkatan kualitas pendidikan dengan CTL ini pada akhirnya bermuara pada ketersediaan dana pendidikan yang memadai. Rencana pemerintah mengucurkan dana senilai Rp.20.000.000,00 (?) belum juga terealisasi. Padahal CTL telah berjalan lebih kurang tiga bulan. Masih untung bila guru yang "mencoba" melakukan strategi CTL itu melakukan swadaya dan memberdayakan dana dari siswa. Itu mungkin masih ditolerir bila pembiayaan untuk pembelajaran sedikit. Tapi bagaimana bila membutuhkan dana yang besar?
Kalaupun dana itu jadi turun, dana tersebut harus sesuai dengan peruntukannya. Dimanfaatkan seefisien dan seoptimal mungkin murni untuk pelaksanaan CTL. Kepala Sekolah harus mampu mengawasi dan melakukan kontrol dengan tegas. Karena bila tidak, bukan tidak mungkin akan terjadi akal-akalan dari guru yang nakal. Meminta dana CTL dengan melakukan mark-up terlebih dahulu demi keuntungan pribadi. Agar pengontrolan berjalan transparan, buatlah papan laporan keuangan CTL. Tempelkan di tempat yang dapat dilihat dan dimonitor oleh seluruh komponen sekolah atau masyarakat luas. Saya yakin, hal ini bukan sesuatu yang berat bila kita melakukan pekerjaan dengan menjujung tinggi kejujuran.
Sebaik apapun kurikulum pendidikan, bila kelima faktor tersebut tidak berhasil dipecahkan oleh diknas, jangan harap CTL dapat mencapai tujuannya. Mutu pendidikan tidak akan berubah, jika faktor; kesiapan guru, modelling, pelibatan para penggiat pembelajaran (siswa), lemahnya kemampuan membaca dan menulis (guru dan siswa) serta tidak tersedianya dana pendidikan yang memadai tidak dapat dimunculkan, maka pendidikan bermutu tinggi hanyalah bintang di awang-awang. Kerlap-kerlip membinarkan harapan, enak dipandang tapi tak bisa disentuh. Pendidikan hanya akan berupa sandiwara antara guru dan siswa didik semata.
*Penulis adalah guru di Pesantren Keresek Cibatu Garut Saya Deny Suwarja setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).
sumber: http://re-searchengines.com/dsuwarja5.html
|
Label: CTL
|
CTL part 1
20.53

Saya dengar dan saya lupa,
Saya lihat dan saya ingat,
Saya buat dan saya faham.
-Pepatah Cina
Mengapa Kita Tidak Mengajar Dengan Kaedah Pelajar Belajar?
Antara salah satu kaedah pendekatan dalam pengajaran dan pembelajaran yang menimbulkan banyak minat di kalangan tenaga pengajar di IPT sejak kebelakangan ini adalah kaedah yang diistilahkan sebagai pembelajaran ‘aktif' dan pembelajaran ‘koperatif'. Chickering dan Gamson telah mengumpulkan hasil penyelidikan dan kertas kerja berkaitan pendidikan peringkat siswazah selama puluhan tahun dan menghasilkan tujuh prinsip amalan baik dalam pendidikan siswazah. Antara prinsip yang mereka ketengahkan adalah:
Learning is not a spectator sport. Students do not learn much just sitting in classes listening to teachers, memorizing pre-packaged assignments and spitting out answers. They must talk about what they are learning, write about it, relate it to past experiences, and apply it to their daily lives. They must make what they learn part of themselves.
Walau bagaimanapun, masih ramai yang tidak memahami dan tidak mempercayai keberkesanan kaedah pedagogi ini. Kajian menunjukkan masih ramai pengajar di IPT menggunakan pendekatan syarahan sebagai satu-satunya kaedah pengajaran dan pembelajaran dalam bilik-bilik kuliah. Antara punca-punca kritikan dan keengganan menggunakannya adalah kepercayaan bahawa pendekatan ini merupakan alternatif dan bukan kaedah yang dapat meningkatkan keberkesanan syarahan seseorang tenaga pengajar. Namun, untuk belajar secara berkesan pelajar harus melakukan lebih dari mendengar sahaja.( Lihat juga Rajah 1).
Dengan menggunakan kaedah pembelajaran aktif bukan bermakna pengajar tidak perlu lagi memberi syarahan kerana syarahan masih merupakan satu kaedah yang berkesan bagi menyampaikan maklumat. Isu yang ingin diketengahkan disini adalah dengan menggunakan kaedah syarahan semata-mata akan menimbulkan masalah bukan sahaja kepada pelajar tetapi juga pengajar. Terdapat banyak kajian yang membuktikan keberkesanan kaedah pembelajaran aktif seperti dinyatakan di bawah.
Felder et. al telah membandingkan hasil keputusan peperiksaan kumpulan kajian iaitu kumpulan yang menggunakan kaedah pembelajaran aktif dengan kumpulan yang menggunakan kaedah pengajaran tradisional. Kumpulan kajian didapati mengatasi kumpulan yang diperbandingkan dalam banyak perkara seperti bilangan bergraduan, tempoh graduan, dan penguasaan dalam beberapa kemahiran generic. Kaedah pedagogi ini boleh digunakan dalam sebarang kurikulum kejuruteraan di IPT kerana saiz kelas yang besar digunakan dan tiada bilik kuliah khas diperlukan.
Analisis terhadap beberapa kajian keatas pendidikan siswazah dalam bidang sains, matematik, kejuruteraan dan teknologi (SMET) yang dilakukan oleh Springer et. al menunjukkan bahawa pelbagai bentuk pembelajaran dalam kumpulan kecil adalah berkesan bagi mempertingkatkan pencapaian akademik, sikap yang lebih positif terhadap pembelajaran dan meningkatkan kesungguhan dalam kursus dan program SMET. Analisis ini menyokong penggunaan secara meluas pembelajaran dalam kumpulan kecil dalam kursus-kursus SMET.
Ruhl et al. mencadangkan agar setiap sesi kuliah diselitkan dengan aktiviti pembelajaran aktif yang pendek agar proses pembelajaran lebih berkesan dapat berlaku. Dalam kajian mereka pengajar memberhentikan syarahan mereka (12 hingga 18 minit) untuk selama dua minit sebanyak tiga kali dalam setiap kuliah. Ketika tempoh berhenti, pelajar secara berpasangan berbincang atau menyemak nota masing-masing dan tiada interaksi antara pengajar dan pelajar. Di akhir setiap kuliah pelajar diberikan tiga minit untuk menulis segala apa yang mereka ingati dari kuliah yang baru disampaikan. Satu kumpulan kawalan juga diberikan kuliah menggunakan bahan yang sama tetapi dengan kaedah tradisional. Kumpulan kajian didapati mendapat keputusan ujian yang lebih baik dengan magnitud perbezaan pencapaian antara kedua kumpulan agak besar Mereka menyimpulkan, if we talk six minutes less, students learn more.
sumber: http://www.utem.edu.my/ppp/article.htm
Label: CTL
|
Analisa Sementara
Jumat, 28 September 2007
00.25
Berikut ini adalah hasil analisa sementara:
A N A L I S A
Demi menunjang tugas ini, maka tim penulis menyebarkan 75 lembar kuisioner kepada siswa-siswi dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari SD sampai dengan SMA & STM. Ada sedikit perbedaan pada deretan pertanyaan untuk tiap tingkatan pendidikan (SD – SMP – SMU/STM). Untuk beberapa pertanyaan, kami memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban lebih dari satu option. Namun hanya beberapa saja yang melakukannya. Mayoritas hanya menjawab 1 option untuk setiap pertanyaannya.
Definisi kata ‘seksual’
Jika kita berbicara tentang seks atau jika kita mendengar kata seksual, ada banyak pengertian yang bisa muncul di benak kita. Demikian juga saat kami selaku tim penulis mencoba menanyakan kepada para responden SMP dan SMA/STM kami tentang definisi kata seksual menurut mereka,
Apakah definisi kata seksual menurut kamu?
Option
SMP- SMA/STM
a. Melakukan hubungan selayaknya pasangan suami – istri
31
b. Gambar/ film/ bacaan yang berhubungan dengan pornografi.
4
c. Pengetahuan seputar alat reproduksi/ organ genital.
36
Dari jawaban diatas, dimana beberapa responden memberikan jawaban ganda, kami bisa menganalisa bahwa perbandingan antara jumlah siswa/i yang menganggap bahwa definisi seksualitas adalah berkaitan dengan hubungan suami-istri, adalah sebanding dengan siswa/i yang beranggapan bahwa definisi kata diatas bisa bermakna kepada pengetahuan seputar alat reproduksi. Berbekal hasil dari jawaban diatas, kami berpendapat bahwa siswa/i pun kini juga sudah memiliki kesadaran kepada pengetahuan seputar alat reproduksi/ organ genital.
Sumber informasi berkaitan dengan isu seksual
Jika sebagian orang tua menganggap bahwa isu ini masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan maupun berdiskusi (“Bila Anak Bertanya soal Alat Reproduksi“, http://situs.kesrepro.info), bagaimana halnya dengan remaja kita? Pertanyaan berikut diajukan kepada responden SMP dan SMA/STM :
Bagaimana perasaan anda bila, bertanya-jawab atau berdiskusi tentang seksualitas?
SMP dan SMA/STM
a. Biasa saja, karena anda sudah bukan anak kecil lagi.
35
b. Risih atau menghindar, karena menganggap hal itu tabu.
2
c. Senang- tanggap aktif.
15
Pertanyaan selanjutnya ditujukan kepada responden ditingkatan SMP, mengarah kepada sumber pengetahuan mereka tentang seksualitas,
Pertama kali kamu mendapatkan pengetahuan tentang seksualitas, adalah dari?
SMP
a. orang tua
1
b. Guru
4
c. Teman sebaya
7
d. Media (internet, VCD, buku, majalah, dll)
11
Hanya 5 orang responden SMP yang menjawab bahwa mereka mendapatkan informasi tentang seksualitas, untuk pertama kalinya dari orang tua – guru. Jumlah ini hanyalah separuhnya dari jumlah responden yang menjadikan media cetak- elektronika sebagai sumber informasi mereka (11 orang). Dan lantas, mereka pun selanjutnya lebih mempercayakan media cetak- elektronika sebagai sumber pengetahuan seksualitas, seperti yang bisa dilihat pada pertanyaan dibawah ini, masih untuk responden SMP:
Untuk selanjutnya, dari manakah kamu mendapatkan pengetahuan tentang seksualitas?
SMP
a. orang tua
1
b. Guru
5
c. Teman sebaya
6
d. Media (internet, VCD, buku, majalah, dll)
11
Ironis memang, untuk isu sepenting ini, bisa terlihat bahwa responden SMP kami tidak mempercayakan orang tua sebagai sumber pengetahuan seputar seks/ seksualitas. Hal ini tentu bisa menjadi masukan bagi para orang tua untuk lebih introspeksi: mengapa anak-anak mereka lebih percaya media cetak- elektronika, dibanding percaya kepada mereka?
Base line survey yang dilakukan oleh Youth Centre PKBI di beberapa kota (Cirebon, Tasikmalaya, Singkawang, Palembang, dan Kupang) tahun 2001 mengungkapkan bahwa pengetahuan remaja tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi terutama didapat dari teman sebaya, disusul oleh pengetahuan dari televisi, majalah atau media cetak lain, sedang orang tua dan guru menduduki posisi setelah kedua sumber tadi.
(dikutip dari : “Peer Education”, http://hqweb01.bkkbn.go.id)
Sementara itu untuk responden tingkat SMA/STM, kami memberikan pertanyaan yang lebih mendetil, memisahkan antara dari siapa dan dari mana mereka mendapatkan informasi tentang seksualitas :
Dari siapa-kah, kamu mendapatkan informasi tentang seksualitas ?
SMA/STM
a. Orang tua
5
b. Guru
2
c. Teman sebaya
22
d. Orang lain
4
Jawaban mereka bukan merupakan fakta yang mengejutkan; bahwa dikalangan remaja kita acap kali terdapat rasa keingintahuan tentang seksualitas, yang diwujudkan dalam bentuk diskusi antar teman.
Remaja menghabiskan banyak waktu mereka dengan berinteraksi secara sangat dekat dengan teman sebayanya, dibanding dengan orang tua atau anggota keluarga lain. Dengan intensitas hubungan seperti itu, tidak heran kalau sumber informasi yang dianggap paling penting oleh remaja adalah yang berasal dari sesama remaja sendiri. Informasi yang beredar di kalangan berupa informasi yang sangat penting seperti masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi.
(dikutip dari : “Peer Education”, http://hqweb01.bkkbn.go.id)
Hal ini sekaligus menimbulkan kekhawatiran bagi kami selaku tim penulis, bahwa remaja lebih memilih untuk percaya kepada teman sebaya-nya dibanding kepada orang tua dan guru, padahal hasil dari diskusi antar teman belum tentu seakurat informasi yang bisa diberikan oleh orang tua dan guru.
Kalau remaja mempunyai pengetahuan yang memadai, maka dia akan dapat memberikan pengetahuan ini kepada temannya. Sebaliknya, apabila pengetahuan remaja tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi rendah, maka yang beredar di kalangan remaja adalah informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, termasuk mitos-mitos yang menyesatkan.
(dikutip dari : “Peer Education”, http://hqweb01.bkkbn.go.id)
Pertanyaan selanjutnya,
Dari mana-kah kamu mendapatkan informasi tentang seksualitas ?
SMA/STM
a. Internet
5
b. VCD/ film
5
c. Media cetak (buku, Koran, majalah)
24
Dari sumber media yang dipercaya oleh responden bisa terlihat bahwa responden tingkat SMA/STM mempercayai media cetak dibanding kepada media elektronika.
Dan dari pertanyaan selanjutnya (khusus untuk responden SMA/STM), ditemukan fakta bahwa 15 orang (dari total 28 responden) pernah mengkonsumsi film/ bacaan yang berkaitan dengan pornografi / yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi/ organ genital. Serta, hasil dari pertanyaan terpisah mengungkapkan bahwa
Pertanyaan selanjutnya masih untuk responden SMA/STM:
Pernahkah kamu mengkonsumsi film/ bacaan yang berkaitan dengan pornografi / yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi/ organ genital?
SMA/STM
Pernah
15
Tidak pernah
13
Pertanyaan serupa kami ajukan kepada responden SD:
Dari mana kamu pernah mendapat informasi tentang seks?
SD
a. Guru
6
b. Orang tua
2
c. Teman
3
d. Media (TV, Koran, majalah, radio)
2
Pertanyaan berikutnya, ditujukan untuk responden SMP dan SMA/STM lebih menjurus kepada apakah media (cetak dan elektronika) menjadi sumber mereka untuk menambah wawasan dibidang seksual :
Jika kamu mengakses Internet, apakah kamu pernah membuka website atau situs porno, ataupun yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi/ organ genital?
SMP dan SMA/STM
Pernah
22
Tidak pernah
29
Sejauh ini, dari hasil kuisioner dapat dilihat bahwa media cetak dan elektronika berpengaruh dalam menambah wawasan siswa SMP- SMA/STM dibidang seksual.
Masalah seks, sesering apapun dibicarakan, tetap bikin penasaran. Apalagi sekarang makin banyak beredar VCD porno yang sampai ke tangan kita. Zaman gini hari, ketika hal-hal yang berbau seksualitas muncul di setiap sudut, bukan hal sulit mencari film beradegan esek-esek serta tulisan atau gambar-gambar yang mengundang. Tak hanya di kota besar, di kota kecil pun hal-hal semacam itu berserakan. Begitu mudahnya informasi tersebut didapatkan, semudah kita membeli coke.
Namun, yang perlu dipertanyakan adalah apakah mereka merasa ingin untuk mendapatkan edukasi tentang seksual atau tidak?
Apakah kamu menginginkan adanya pendidikan (kaitannya dengan kesehatan alat reproduksi/ organ genital?
SMP- SMA/STM
a. Ya
64
b. Tidak
10
Bisa dilihat dari hasil, bahwa mayoritas menginkan adanya edukasi/ pendidikan seksual, kaitannya dengan dengan kesehatan alat reproduksi/ organ genital. Tapi ada juga responden yang tidak menginginkannya. Alasan mereka antara lain: ‘Belum pengen tau, ntar juga tau-tau sendiri’ dan ‘Pasti ga bakal jadi serius, cuma dibuat jadi bahan bercandaan dan nantinya akan ada pelecehan seksual’.
Untuk responden SMP yang tidak menginginkan pendidikan seksual, mayoritas mereka beralasan bahwa seks adalah hal yang menjurus kepada pornografi. Tetapi dari hasil pertanyaan diatas ini, dapat terlihat jika 64 orang menghendaki adanya pendidikan seks karena mereka berpendapat salah satunya untuk pencegahan penyakit menular seksual, HIV/AIDS. Dari sini bisa terlihat bahwa pengaruh globalisasi menyebabkan ketidak-canggungan remaja jaman sekarang untuk membicarakan masalah seksualitas dan mereka mendambakan adanya sarana dan orang yang tepat untuk bertanya. Hal ini pun berkaitan dengan pertanyaan berikutnya adalah,
Dan pertanyaan final, untuk menjawab judul makalah ini, adalah:
Menurut kamu, apa dampak dari, media cetak / elektronika dalam memberikan informasi dan pengaruhnya tentang pengetahuan seks / seksualitas?
SMP dan SMA/STM
a. Secara positif (dalam pengertian : kesehatan alat reproduksi/ organ genital)
32
b. secara negative (dalam pengertian : pornografi )
24
32 responden menjawab bahwa mereka mendapat pengaruh positif (dalam pengertian : kesehatan alat reproduksi/ organ genital), sementara 24 responden mengaku mendapat pengaruh negatif (dalam pengertian : pornografi). Dari sini bisa dilihat, bahwa responden yang notabene masih remaja, hampir separuhnya mengakui bahwa media cetak memberikan dampak yang kita tidak inginkan bersama, yaitu dampak negative yang berkaitan dengan pornografi.Label: Landasan Kependidikan
|
Rangkuman Teori Landasan Kependidikan
00.19
Di bawah ini adalah rangkuman Teori untuk mensupport penulisan makalah serta hasil kuisioner. Dibagi menjadi topik-topik : PENDIDIKAN SEKS ,DAMPAK MEDIA CETAK ELEKTRONIKA, PENGARUH TEMAN, ORANG TUA > SEKS ITU TABU dan REMAJA TERJERAT PORNOGRAFI
PENDIDIKAN SEKS
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map55sekolah.html]
Sekolah Pendidikan Seks Ala Ayu
Zaman sudah berubah, salah satunya adalah makin bebasnya informasi termasuk informasi soal seks yang cukup memprihatinkan. Dengan teknologi dunia menjadi tidak berbatas lagi. Anak-anak sekarang bisa dengan bebas dan leluasa menerima informasi, baik yang positif maupun negatif, internet, surat kabar, tabloid majalah, radio dan televisi makin gampang seks dipapar secara terbuka. Semua itu membuat orang tua seolah tak berdaya dalam upaya membatasi pengaruh yang diterima anak.
Alasan kami mengembangkan program ini, latar belakangnya karena saya sebagai orang tua sangat concern dengan perkembangan pergaulan anak-anak zaman sekarang. Sekarang ini kita sebagai orang tua harus mulai memberikan perhatian khusus mengenai hal ini (pendidikan seks-Red) karena dunia kita sudah tidak berbatas lagi, ujar Ayu.
Diakui hadirnya sekolah pendidikan seks tersebut sempat mendapat respon kurang baik. Ada anggapan dari sebagian orang tua bila anak-anak mendapatkan pendidikan seks, jangan-jangan justru akan mendorong hasrat seksual si anak.
Padahal tujuan pemberian pendidikan seks pada anak-anak bukan menyinggung soal hubungan seksi tapi lebih pada perilaku seks mereka. Maksudnya supaya mereka bisa tertata dengan lebih baik . lebih ditekankan pada tahapan. Misalnya anak laki-laki apa tanggung jawabnya dan perempuan apa yang harus dijaga. Juga mengenai alat reproduksi mereka serta perubahan dalam tubuhnya, jelas Ieda Poernomo.
Berdirinya parasti dimaksudkan memberi wadah kepada masyarakat yang belum mampu memberikan pendidikan seks untuk anak-anak, memang sebenarnya lebih efektif adalah orang tua tapi kalau orang tua belum siap bagimana ? apa anak harus dibiarkan saja ? ucap Ieda. Untuk itu parasti juga membuka kelas untuk orang tua, jadi kita harus memberikan bimbingan untuk orang tua imbuh Ieda.
[http://www.gatra.com/2006-03-31/komentar.php?cid=78239]
Aborsi di Indonesia, Dua Juta Kasus Per Tahun
Sementara Das`ad Latif mengatakan, mengajarkan pendidikan sex itu sebenarnya dalam Islam, tidak dilarang. Yang dilarang sebenarnya adalah mengumbar syahwat. Namun dalam penyampaian pendidikan seks ini, hanya sedikit media yang melakukannya, yang justru dilakukan adalah membuat tayangan ataupun sajian yang mengarahkan orang menggunakan media massa itu termotivasi melakukan hal-hal negatif, misalnya pemerkosaan, pelecehan seksual dan sebagainya.
---
Sebaiknya pendidikan seks harus diajarkan saat usia anak-anak belum mendapat menstruasi. Jika terjadi, mereka tidak panik dan tahu bahwa menstruasi itu bagus, dan berarti normal.
[http://www.ums.ac.id/fakultas/psikologi/modules.php?name=News&file=article&sid=17]
Pendidikan Seksual Pada Remaja
Dipublikasi pada Thursday, 02 September 2004 oleh admin
Psikologi Pendidikan arina writes:
Pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka, nampaknya secara perlahan-lahan harus diubah. Sudah saatnya pandangan semacam ini harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Remaja yang hamil di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, dll, adalah contoh dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat pemahaman yang keliru mengenai seksualitas.
Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) adalah sebagai berikut :
5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
Pendidikan Seksual
Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994), secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.
Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987)
Dalam memberikan pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak bertanya mengenai seks. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak.
DAMPAK MEDIA CETAK ELEKTRONIKA
http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map76more.html]
More Sex (Education), Please
Kompas, Jum'at 02 Mei 2003, halaman 28
MASALAH seks, sesering apapun dibicarakan, tetap bikin penasaran. Apalagi sekarang makin banyak beredar VCD porno yang sampai ke tangan kita. Kali ini, kita sudah betul-betul memerlukan informasi soal seks yang pas.
Apalagi di zaman gini hari, ketika hal-hal yang berbau seksualitas muncul di setiap sudut, bukan hal sulit mencari film beradegan esek-esek serta tulisan atau gambar-gambar yang mengundang. Tak hanya di kota besar, di kota kecil pun hal-hal semacam itu berserakan. Begitu mudahnya informasi tersebut didapatkan, semudah kita membeli coke.
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map63virginitas.html]
Virginitas dan Remaja kita
sementara pada masa globalisasi seperti sekarang ini budaya Barat sangat diakrabi remaja kita Adalah Anindya Mutiara Dianingrum. Berusia 17 tahun, siswi SMU Labshcool Jakarta Program Akselerasi (masa tempuh SMU hanya dua tahun) yang telah melakukan studi ini. Anin menyebar kuesioner secara acak dengan sistem sample kepada 24 remaja putri dan 12 remaja putra dari beberapa sekolah di Jakarta pada kurun 1 sampai 7 Desember 2001.Hasil dari studi ini memperlihatkan bahwa remaja putra maupun putri kebanyakan sudah pernah menonton atau membaca film atau buku porno,
[http://www.gatra.com/2006-03-31/komentar.php?cid=78239]
Aborsi di Indonesia, Dua Juta Kasus Per Tahun
[Dari fenomena yang terjadi itu, maka pihak Media Sollution tertantang untuk menggelar acara tersebut dengan menghadirkan Zaskia Adya Mecca, artis dari Jakarta, Ismarli Muis, psikolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), dr Fatmawati Madya, SPOG dari RS Regional Wahidin dan Das`ad Latif, MSi, pengamat media dari Universitas Hasanuddin.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) mengenai kasus aborsi tersebut terungkap pada pada Talk Show `Virginitas dan Fenomena Aborsi` yang digelar di Makassar, Sabtu]
Namun yang paling banyak berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian seseorang adalah lingkingan yang dimulai ketika memasuki usia sekolah.
"Lingkungan di sini, bukan saja dengan orang lain di luar anggota keluarga, tetapi juga termasuk media, baik media cetak maupun elektronik," ujarnya.
Dalam acara talk show tersebut, Das`ad yang juga pengajar di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Unhas dan Ketua Da`i Muda Sulsel mengatakan, media mempunyai indil besar dalam merusak moral bangsa.
[http://www.ums.ac.id/fakultas/psikologi/modules.php?name=News&file=article&sid=17]
Pendidikan Seksual Pada Remaja
Dipublikasi pada Thursday, 02 September 2004 oleh admin
Psikologi Pendidikan arina writes:
Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.
Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) adalah sebagai berikut :
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (cth: VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map124waspadai.html]
Waspadai Seks Bebas Kalangan Remaja
Majalah Gemari, September 2001
Factor yang melatarbelakangi hal ini, ujar Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno.
Kepala PSW-UII [Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta] Dra Trias Setiawati, Msi. : Ditambahkannya, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi,
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map118remaja.html]
Remaja, Kenali Organ Tubuhmu
Majalah Gemari, Juli 2002
Peran media massa, diakui Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas, mampu membentuk realitas dari kehidupan. Ketika menghadapi dorongan seks luar biasa, penyaluran yang dibayangkan remaja adalah hubungan seksual. Dan berbagai media yang menyalurkan minat mereka itu, tersedia di mana-mana dengan murahnya Dan membawa remaja pada perilaku tidak benar.
[http://situs.kesrepro.info/krr/mei/2005/krr03.htm]
Bila Anak Bertanya soal Alat Reproduksi
Berbagai informasi yang diserap anak bisa berakibat negatif jika tidak diberi bimbingan. Terutama dengan maraknya tontonan di televisi dan internet yang bisa diakses secara bebas oleh anak.
http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map89pengaruh.html]
Pengaruh Tayangan TV
Ini disebabkan pergaulan yang terlalu bebas dan tontonan yang kurang terkontrol. Kebanyakan stasiun televisi menayangkan film-film tentang kehidupan pergaulan yang bersifat liberal.
PENGARUH TEMAN
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map118remaja.html]
Remaja, Kenali Organ Tubuhmu
Majalah Gemari, Juli 2002
Celakanya, remaja umumnya kurang mengenali organ tubuhnya. Tidak sedikit di antara mereka yang bertanya pada teman sebaya tentang perubahan fisik yang dialami. Dan tidak sedikit pula diantaranya yang terjebak informasi salah.
Tingkat Pemahaman remaja yang dipengaruhi mitos-mitos lingkungan sekitar, khususnya dari teman sebaya, ungkap Guntoro Utamadi, Psikolog yang juga pengasuh rubik Curhat di harian Kompas, dapat membahayakan perkembangan mental remaja bila tidak segera didampingi oleh orang yang dipandang tepat memberi informasi yang benar.
"Jadi sudah waktunya kita menerima kenyataan bahwa remaja butuh informasi pendampingan Dan penddidikan yang baik tentang kesehatan reproduksi Dan seksualitas serta pelayanan yang ramah terhadap remaja," paparnya.
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map63virginitas.html]
Virginitas dan Remaja kita
pada masa remaja anak memang lebih mendengarkan perkataan temannya ketimbang orang tuanya.
Nah. Bisa dibayangkan biola remaja mencari jawab bagi permasalahannya yang kompleks itu hanya melalui teman-teman sebayanya yang notabennya masih mencari, mencoba dan meraba-raba segala sesuatu
http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map5peer.html]
"Peer Education"
SEBAGAI remaja, waktu kita lebih banyak kita habiskan dengan teman sesama remaja daripada dengan orang tua atau anggota keluarga lain. INTERAKSI yang intensif ini juga, disertai oleh fenomena yang disebut peer pressure atau tekanan teman sebaya. Kita tentunya bisa merasakan betapa besar pengaruh-teman sebaya dalam kehidupan kita sehari-hari
Dengan intensitas hubungan seperti itu, tidak heran kalau sumber informasi yang dianggap paling penting oleh remaja adalah sesama remaja sendiri. Informasi yang beredar di kalangan berupa informasi yang sangat penting seperti masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi.
Dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dari masa kanak-kanak menjadi dewasa, remaja sangat terdorong untuk mencari tahu informasi seputar seksualitas. Base line survey yang dilakukan oleh Youth Centre PKBI di beberapa kota (Cirebon, Tasikmalaya, Singkawang, Palembang, dan Kupang) tahun 2001 mengungkapkan bahwa pengetahuan remaja. tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi terutama didapat dari teman sebaya, disusul oleh pengetahuan dari televisi, majalah atau media cetak lain, sedang orang tua dan guru menduduki posisi setelah kedua sumber tadi.
Oleh karena itulah, pengetahuan reproduksi juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pengetahuan teman-teman sebayanya (peer). Kalau peer mempunyai pengetahuan yang memadai, maka dia akan dapat memberikan pengetahuan ini kepada temannya. Sebaliknya, apabila pengetahuan remaja tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi rendah, maka yang beredar di kalangan remaja adalah informasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, termasuk mitos-mitos yang menyesatkan. Hal ini tentunya sangat membahayakan, apalagi mengingat bahwa mitos yang menyesatkan tadi bisa berakibat fatal terhadap masa depan remaja itu. Bayangin aja kalau karena kurang pengetahuan atau mempercayai mitos yang salah, seorang remaja sampai hamil atau tertular penyakit menular seksual (PMS).
ORANG TUA > SEKS ITU TABU
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map55sekolah.html]
Sekolah Pendidikan Seks Ala Ayu
Diakui hadirnya sekolah pendidikan seks tersebut sempat mendapat respon kurang baik. Ada anggapan dari sebagian orang tua bila anak-anak mendapatkan pendidikan seks, jangan-jangan justru akan mendorong hasrat seksual si anak.
Berdirinya parasti dimaksudkan memberi wadah kepada masyarakat yang belum mampu memberikan pendidikan seks untuk anak-anak, memang sebenarnya lebih efektif adalah orang tua tapi kalau orang tua belum siap bagimana ? apa anak harus dibiarkan saja ? ucap Ieda. Untuk itu parasti juga membuka kelas untuk orang tua, jadi kita harus memberikan bimbingan untuk orang tua imbuh Ieda.
Apa yang diwujudkan Ayu dan rekannya adalah salah satu langkah untuk mendobrak budaya tabu bicar seks karena menurut Ayu kalau kita sudah mengerti betul urgensi pendidikan maka tidak perlu ada yang tabu lagi dalam hal ini.
[http://situs.kesrepro.info/krr/mei/2005/krr03.htm]
Bila Anak Bertanya soal Alat Reproduksi
Pasalnya, selain orang tua kurang memahami pengetahuan seks, mereka juga kurang yakin dengan pandangan seks dan timbulnya perasaan malu karena menganggap seks sebagai hal yang tabu.
Selama ini, kata Harliem, hanya ibu atau istri yang melaksanakan pendidikan anak termasuk pendidikan seks. Padahal ada beberapa hal lebih mengena bila diberikan oleh ayah atau suami. Untuk itu, ia mengharapkan ayah juga menjadi pendidik terutama bagi anak laki-lakinya
[http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/map120sex.html]
'Sex Education' Pada Remaja Alami Kendala
Majalah Gemari, Maret 2002
Masih minimnya tingkat pengetahuan sebagian orang tua dalam memberi pendidikan kesehatan reproduksi pada anaknya yang sudah berangkat remaja, mendorong munculnya permasalahan baru bagi generasi selanjutnya. Seperti, menikah usia muda, hamil di luar nikah
Namun, diakui Dr Joedo Prihartono, MPH, Direktur Program Kesehatan YKB, pengenalan sex education pada remaja masih mengalami hambatan. Karena, sex education sering diartikan tabu atau sebatas pengertian melatih hubungan seks.
REMAJA TERJERAT PORNOGRAFI
[http://digilib.itb.ac.id/]
Persepsi orangtua tentang pornografi di kalangan remaja di Kota Malang
Adapun faktor penyebab remaja terjerat dalam pornografi diantaranya meliputi media massa (media cetak, media elektronik) dan lingkungan teman sebaya, keluarga, masyarakat serta faktor internalisasi individu seperti kurang bisa membawa diri, ingin cepat terkenal dan ingin dianggap dewasa.Label: Landasan Kependidikan
|
Landasan Kependidikan (4)
Rabu, 19 September 2007
05.23
Kumpulan materi untuk Mata Kuliah Landasan Kependidikan (Pak Udin)
Mengenali Seksualitas Balita..!
1/22/2007
Jakarta, Selasa
Seksualitas dan perasaan seksual manusia dimulai jauh sebelum bayi lahir dan terus berlangsung hingga kehidupannya berakhir.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Kinsey Institute, segera setelah lahir semua bayi yang normal akan mengalami perubahan hormonal. Dalam satu atau dua hari, pasokan hormon testosteron dan estrogen akan menurun secara drastis. Pada bayi laki-laki hormon testosteron akan meningkat sebulan kemudian. Selama sebulan itu pasokan hormon tetap tinggi. Setelah itu pasokan hormon akan menurun hingga tingkat terendah. Keadaan itu akan terus berlangsung hingga anak-anak mengalami perubahan hormonal lagi semasa pubertas dimulai, yaitu sekitar usia 8-12 tahun.
Untuk itulah orangtua harus mengenali sekaligus mengambil langkah tepat untuk membantu perkembangan seksualitas balita. Hal yang harus dikenali antara lain:
Kenal Identitas Kelamin
Perkembangan tubuh seksual anak tidak sepesat intelektualitas dan kejiwaannya. Namun, pada usia balita hingga kanak-kanak ini terjadi perubahan penting pada perkembangan seksual anak.
"Orang memperlihatkan betapa beragamnya perkembangan seksual mereka di masa kanak-kanak dan banyak faktor yang turut mempengaruhi. Meski demikian, di antara berbagai perbedaan ini ada tahapan perkembangan yang umum terjadi pada setiap orang," tulis Robert Crooks dan Karla Baur.
Menurut Kinsey Institute, sejak lahir hingga usia tiga tahunan seorang anak menemukan identitas jenis kelaminnya (gender identity). Setiap orangtua pasti akan menghadapi masa anak mulai mempertegas siapa dirinya dan termasuk golongan mana.
Anda ingat bagaimana mereka menyatakannya? "Hei, aku cewek, kamu cowok. Cewek kalau pipis jongkok, dong!" Begitu kurang lebih yang sering kita dengar saat balita mulai mengenal identitas kelaminnya.
Pada masa ini pengaruh lingkungan atau biologis sangat kuat dan pengenalan identitas diri ini biasanya tidak berubah lagi selamanya. Itu sebabnya orangtua sangat dianjurkan untuk membantu anak-anak mengenal identitas kelaminnya secara jelas agar mereka tidak bingung.
Kadang kita temukan kasus orangtua tanpa maksud buruk dan tanpa sadar telah menyebabkan anak mengalami keraguan mengenai jenis kelaminnya. Saya ini perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan mengapa saya diperlakukan seperti laki-laki? Demikian juga sebaliknya.
Saking besarnya keinginan orangtua memiliki anak perempuan, bayi laki-lakinya didandani seperti perempuan dan dibelikan boneka. Perlakuan seperti ini akan menyebabkan anak kesulitan mengenal indentitas kelaminnya.
Tahu Peran Jenis Kelamin
Di usia tiga tahun anak mulai mengenal apa yang disebut dengan peran jenis kelamin (gender role), yaitu kesadaran tentang apa yang lazim dilakukan laki-laki dan perempuan.
Dasar dari pengetahuan peran jenis ini adalah pengenalan identitas kelamin.
Kesadaran ini juga yang kelak akan membuat anak menentukan hidupnya dan memilih pekerjaan. Lalu, bagaimana anak mengenal peran jenis kelaminnya?
Biasanya ada dua cara. Pertama, belajar dari orangtua (sebagai figur yang paling dekat) dan teman-teman sejenisnya. Anak laki-laki meniru tingkah laku ayah atau figur penggantinya seperti kakek atau paman. Dalam psikologi, perkembangan ini disebut imitasi. Mereka juga belajar tentang peran jenis dengan meniru tindakan atau apa yang dilakukan oleh sesama anak laki-laki.
Kedua, anak belajar peran jenis dari lawan jenisnya. Anak laki-laki tahu tentang apa yang diharapkan untuk dilakukan anak perempuan dari melihat tingkah ibunya dan apa yang dilakukan oleh anak perempuan. Dengan memahami peran dari lawan jenisnya ia jadi tahu peran apa yang diharapkan dari jenis kelaminnya sendiri.
Mungkin sering kita dengar bagaimana anak-anak mengungkapkan pengenalan mereka tentang peran jenis kelamin. "Hei, kamu ’kan cewek, masa main robot-robotan?"
Ketika di pertokoan atau di taman bermain, kadang kita menjumpai anak-anak yang menunjukkan dengan jelas bagaimana mereka melakukan imitasi. Misalnya, anak laki-laki menirukan gaya jalan ayahnya secara persis. Anak perempuan biasanya ingin memakai lipstik dan kutek seperti ibunya.
Memiliki Kesadaran yang Kuat
Seperti diungkapkan Kinsey Institute, anak-anak dengan keyakinan kuat tentang identitas dan peran jenis kelaminnya ketika dewasa akan bersikap lebih fleksibel menyangkut maskulinitas dan femininitas.
Ide atau gagasan tentang tingkah laku yang seharusnya dilakukan mereka atau lawan jenisnya juga tidak terlalu kaku. Sikap semacam inilah yang semakin dibutuhkan oleh peradaban, yaitu meletakkan kedua jenis kelamin ini secara setara, tidak ada yang lebih superior maupun inferior.
Lebih dari itu, biasanya mereka tidak akan cemas atau ragu meski sebagai anak laki-laki suka memasak dan sebaliknya anak perempuan lebih suka ikut ayah ke bengkel mobil daripada belanja ke supermarkat bersama ibu. Perlahan tapi pasti mereka bisa menjelaskan dengan yakin bahwa dirinya tetap laki-laki dan perempuan, bukannya banci atau homoseksual, meskipun tidak melakukan sesuatu yang lazim diperbuat orang-orang dari sesama jenisnya.
Sikap mau tahu dan kepedulian orangtua untuk masa perkembangan ini sangatlah bermanfaat. Bila orangtua mendidik secara androgini sesuai tuntutan zaman, anak tidak akan mengalami kebingungan identitas kelamin. Perkembangan zaman menuntut agar kita memperlakukan setara dan memberi hak yang sama bagi anak-anak untuk melakukan hal yang semula dianggap hanya untuk perempuan atau laki-laki.
Yang paling utama adalah tumbuhnya kesadaran pada anak maupun orangtua bahwa proses perkembangan seksual harus dicermati, bukan disikapi dengan kepanikan dan kekhawatiran yang berlebihan.
Pentingnya Pengetahuan Seks yang Benar ..!
Pengetahuan seks yang benar yang dimiliki orangtua akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang kejiwaan anak.
Beberapa hal atau peran yang dapat dimainkan orangtua seperti dijelaskan psikolog Dra. Ieda Poernomo Sigit Sidi, sebagai berikut:
Perhatikan perkembangan anak dan perilakunya dalam kaitan dengan perkembangan seksualnya. Dalam perkembangannya anak juga mengalami perubahan seksual sesuai pertumbuhan fisik dan mentalnya.
Ajak anak mengenali tubuhnya dan beritahu kegunaannya. Misalnya hidung untuk penciuman, mata untuk melihat, mulut untuk bicara dan makan, telinga untuk mendengar, perut untuk mengolah makanan, kaki untuk berjalan, tangan untuk memegang, dan kelamin untuk buang air kecil.
Beritahukan bahwa ia akan mengalami perubahan sesuai perkembangan tubuhnya. Dia akan tumbuh seperti orang dewasa dan tidak perlu cemas menghadapinya karena perkembangan itu menunjukkan bahwa dia normal. Ayah dan ibu bisa menggunakan gambar ilustrasi yang ada di buku-buku anatomi reproduksi.
Amati perilaku seksual anak, misalnya bagaimana dia memperhatikan dan memperlakukan kelaminnya.
Sejak balita ajarkan anak cara membasuh kelaminnya sesudah buang air kecil dan besar.
Biasakan anak mengenakan pakaian dalam yang bersih.
Dengarkan pertanyaan anak seputar perkembangan seksualnya. Kalau Anda tidak bisa menjawabnya saat itu, jangan segan untuk berterus terang. Sesudah itu carilah informasi yang diperlukan. Anda bisa mencari buku yang memuat informasi tersebut atau berkonsultasi kepada ahli (psikolog). Kemas informasi yang Anda peroleh dan sampaikan dengan bahasa yang dipahami anak sesuai perkembangan usianya.
Kalau anak bertanya, dari mana dia lahir? Jawablah terus terang, "Dari kelamin ibu." Lanjutkan dengan penjelasan bahwa Tuhan menciptakan kelamin perempuan seperti itu untuk "jalan lahir" anak. Bagaimana bisa begitu? Katakan bahwa hal tersebut merupakan kebesaran Tuhan. Dalam keadaan tertentu, bayi tidak bisa lahir lewat jalan biasa, yaitu kelamin ibu, terpaksa dilakukan operasi. Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan melakukannya di rumah sakit atau rumah bersalin.
Jelaskan bahwa Tuhan menciptakan kelamin laki-laki dan perempuan berbeda karena fungsinya juga tidak sama. Laki-laki tidak mengandung, melahirkan, dan menyusui anak karena tidak punya perangkat untuk itu. Perempuan diberi kodrat oleh Tuhan untuk mengandung, melahirkan, menyusui anak. Untuk itu Tuhan memberikan perangkatnya, yaitu rahim, bentuk kelamin seperti itu, dan payudara. Rahim disiapkan untuk pertumbuhan bayi di dalam kandungan, kelamin diciptakan seperti itu buat jalan lahir bayi, dan payudara tumbuh menjadi besar agar kelak bisa menyusui. Karunia ini harus dijaga dengan baik supaya bisa berfungsi dengan baik pada saatnya kelak, yaitu ketika ia sudah dewasa dan menikah.
Laki-laki diberi Tuhan sperma atau sel mani yang memungkinkannya untuk menghamili, yaitu ketika sel mani bertemu dengan sel telur milik wanita. Laki-laki harus menjaga kelaminnya dengan baik agar tetap sehat, sel maninya baik, dan pada saatnya kelak mampu membuahi sel telur.
Bicaralah tentang perkembangan seksual anak sesuai dengan tahapan usianya. Bicara dengan anak berumur tujuh tahun tentu berbeda dengan anak yang sudah berusia 15 tahun.
Cari informasi supaya bisa menyiapkan anak dengan bekal pengetahuan yang cukup, sehingga dia bisa menjaga perilaku seksualnya dengan baik, tidak terpengaruh lingkungan yang menyesatkan, mencoba-coba, dan mudah dibujuk, serta bisa menjaga dirinya dengan baik, termasuk melindungi diri dari pelecehan seksual dan bahkan perkosaan. Pelajari, bagaimana cara bicara dengan anak tentang perilaku seksualnya. Meminta bantuan ahli sangat dianjurkan.
Amati pergaulan anak di abad ini. Perhatikan acara di televisi dan radio. Ikuti perbincangan di masyarakat, sehingga Anda bisa memperoleh gambaran yang tepat mengenai kondisi dan situasinya. Jangan terperangkap oleh pikiran sendiri, apalagi menganggap dunia masih "aman".
Tentukan rambu-rambu yang Anda inginkan untuk diperhatikan anak dalam bergaul. Beritahukan macam-macam lingkungan atau situasi yang harus diwaspadainya. Jangan hanya sekadar melarang tanpa penjelasan.Label: Landasan Kependidikan
|